Jaringan Media Aceh
Rabu, 16 September 2026
Aceh, Pendidikan

Radio Rimba Raya, Suara Republik dari Rimba Aceh

JMA, Aceh – Di tengah hutan lebat dataran tinggi Gayo, Aceh, pernah berdiri sebuah stasiun pemancar sederhana yang mengubah jalannya sejarah bangsa. Radio Rimba Raya, namanya, menjadi saksi bisu sekaligus pelaku penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia di saat-saat paling genting: ketika dunia nyaris percaya bahwa Republik Indonesia telah tamat.

Ketika RRI Bungkam, Belanda Berbicara

Peristiwa ini bermula pada Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948. Belanda melancarkan serangan besar-besaran dan berhasil menduduki Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Seluruh pemancar Radio Republik Indonesia (RRI) di berbagai daerah dihancurkan lewat pengeboman, memutus total suara Indonesia ke dunia luar.

Kekosongan ini langsung dimanfaatkan Belanda. Radio Hilversum di Belanda dengan lantang menyiarkan ke seluruh dunia bahwa Republik Indonesia telah hancur dan tidak lagi eksis. Menggunakan pemancar berdaya 350 KW, propaganda ini menyebar cepat dan sebagian dunia internasional mulai mempercayainya. Bagi Republik yang baru berusia tiga tahun, ini adalah ancaman eksistensial: jika dunia percaya Indonesia telah runtuh, dukungan diplomatik dan pengakuan kedaulatan bisa lenyap begitu saja.

Pemancar Selundupan dari Malaya

Namun tidak semua pemancar radio Republik ikut hancur. Tanah Aceh, yang saat itu dikenal sebagai “Daerah Modal” karena tidak pernah berhasil diduduki Belanda, telah lebih dulu mempersiapkan diri. TNI Divisi X di bawah Panglima Kolonel T. Hoesin Joesoef sejak 1947 telah membeli sebuah pemancar radio buatan Amerika secara rahasia dari Singapura/Malaya untuk keperluan Komandemen Sumatera, Langkat, dan Tanah Karo.

Pada 19 Desember 1948, bersamaan dengan jatuhnya Yogyakarta, Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo mengadakan sidang Dewan Pertahanan Daerah. Diputuskan, esok harinya, 20 Desember 1948, pemancar tersebut harus sudah mengudara. Maka lahirlah Radio Rimba Raya.

Berpindah-pindah Demi Selamat dari Buruan Belanda

Siaran perdana Radio Rimba Raya dipancarkan dari Krueng Simpang, Bireuen, untuk menangkal propaganda Belanda. Namun keberadaannya cepat terdeteksi. Gubernur Militer memerintahkan pemancar ditarik ke pegunungan Cot Gue, Aceh Besar. Lokasi ini pun dinilai tidak cukup aman, hingga akhirnya pemancar dipindahkan lagi ke kawasan Rimba Raya di dataran tinggi Gayo—wilayah berhutan lebat dan strategis yang sulit ditembus pesawat pengintai maupun pengebom Belanda.

Di tengah rimba itulah, Kolonel Hoesin Joesoef bersama pasukannya mengamankan antena dan pemancar, berpindah-pindah tempat demi menghindari serangan militer Belanda yang terus berusaha melumpuhkan seluruh akses komunikasi Indonesia dengan dunia luar.

“Republik Indonesia Masih Ada, dan Di Sini Aceh”

Dengan kekuatan hanya satu kilowatt pada frekuensi 19,25 dan 61 meter, Radio Rimba Raya mengudara membawa pesan yang kini dikenang sebagai salah satu kalimat paling bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan:

“Republik Indonesia masih ada, karena pemimpin republik masih ada, tentara republik masih ada, pemerintah republik masih ada, wilayah republik masih ada, dan di sini adalah Aceh.”

Siaran ini disampaikan dalam lima bahasa—Indonesia, Inggris, Belanda, Cina, Urdu, dan Arab—agar dapat dipahami oleh khalayak internasional seluas mungkin. Dalam waktu enam bulan mengudara, sinyal Radio Rimba Raya berhasil ditangkap jernih oleh stasiun-stasiun radio di Semenanjung Melayu, Singapura, Saigon, Manila, bahkan hingga Australia dan Eropa.

Berkat siaran inilah, dunia mengetahui bahwa klaim Belanda tentang runtuhnya Republik Indonesia adalah kebohongan. Radio Rimba Raya berhasil membentuk opini internasional dan membakar kembali semangat perjuangan di dalam negeri, sekaligus menjaga simpati dan dukungan dunia terhadap kedaulatan Indonesia di forum-forum diplomasi.

Senjata Diplomasi dari Tengah Hutan

Para sejarawan menilai peran Radio Rimba Raya tidak sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan senjata diplomasi yang sangat efektif. Saat jalur komunikasi resmi Republik lumpuh akibat perang, siaran dari pedalaman Aceh inilah yang menjadi penghubung antara Indonesia dan dunia internasional—turut menjaga pengakuan global terhadap eksistensi Republik hingga akhirnya kedaulatan penuh diakui melalui Konferensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949.

Selain menyiarkan berita perjuangan untuk umum, awak Radio Rimba Raya juga menjalankan fungsi vital lain: memonitor pergerakan lawan serta mengirimkan pengumuman dan instruksi penting bagi kegiatan angkatan bersenjata di berbagai front pertempuran.

Dikenang Lewat Tugu Perjuangan

Untuk mengenang jasa besar ini, dibangun Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya di Kampung Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo (sebagian sumber menyebut Kecamatan Timang Gajah), Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Monumen ini diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Bulog kala itu, Bustanil Arifin, pada 27 Oktober 1987. Sementara itu, sejumlah perangkat asli peninggalan Radio Rimba Raya kini tersimpan di Museum Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Yogyakarta, lengkap dengan keterangan sebagai “pemancar hasil selundupan dari Malaya, digunakan oleh Pemerintah RI di Sumatera/Aceh 1948”.

Penutup

Kisah Radio Rimba Raya adalah bukti nyata bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak selalu terjadi di medan tempur bersenjata. Dari sebuah pemancar sederhana yang bersembunyi di tengah rimba Gayo, suara Indonesia berhasil menembus batas negara, mematahkan propaganda, dan menyelamatkan pengakuan dunia terhadap Republik yang masih sangat muda. Hingga kini, kisah ini tetap menjadi bagian penting sejarah perjuangan bangsa yang layak terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Disusun dari berbagai sumber, termasuk arsip Kanwil Depdikbud Aceh, DJKN Kementerian Keuangan, dan pemberitaan sejarah Aceh.